RSS

Author Archives: d'

About d'

Simply black, complicatedly blue. Ekspresif, eksplosif.

[Semacam Review] Fira dan Hafez

Setelah kelar baca buku Fira dan Hafez, entah kenapa koq tiba-tiba pengen banget bahas buku ini. Sebelumnya mohon maaf ya, sudah lama sekali blog ini terbengkalai.. *sungkem* tapi di rumah lain saya cukup aktif koq.. *membela diri*

Awalnya, sejak tau Fira Basuki mau ‘nelorin’ buku ini, saya berniat tidak akan beli. Kenapa? Takut sedih.. 😦

Tapi sekitar tiga minggu lalu, entah kenapa koq ada keinginan kuat untuk membeli buku ini sewaktu berjalan-jalan ke toko buku. Jadi yah, beli deh.. :mrgreen: Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 14/09/2013 in Review

 

Supernova Episode: #Partikel

Sengaja judulnya saya kasi hashtag biar nanti pas di twitter bisa langsung ke-list. Ya kali hestek #partikel masih ada yang merhatiin πŸ˜†

Btw, baru berani ngereview sekarang soalnya kemarin-kmarin masih dalam suasana euforia. Khawatirnya nanti apa yang saya tulis lebih banyak unsur subjektifnya. Yah, walau pastinya setiap review tidak bisa lepas dari unsur subjektifitas sih ya.. *halah jadi mbulet gini πŸ˜† *

Jujur aja dari keempat buku seri supernova (yang masih akan ada 2 buku lanjutan lagi) yang saya baca, Partikel bukan termasuk buku yang paling saya suka. Sampai saat ini, dari keempat buku seri ini, saya paling suka episode Petir. Kenapa? Soalnya episode itu yang paling mendekati kehidupan pribadi saya πŸ˜†

Walau demikian, buku Partikel ini membuat saya dengan bangga memberi gelar Penulis “Gila” kepada Dee 😎

Saya rasa Dee sangat jenius! Tidak seperti ketiga buku sebelumnya yang menurut saya unsur ‘klenik’-nya cukup terasa kental, di buku ini saya merasa justru unsur science lebih banyak menonjol. Oleh karena itu pula, saya rasa wajar Dee membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menulis buku ini. Pastinya perlu banyak dilakukan sejumlah riset terlebih dahulu. Jarak 8 tahun bo’ sama waktu terbit buku ketiganya! Tapi, dalam jarak 8 tahun ini, Dee juga masih sempat menelurkan beberapa karya lain. Sebut saja Filosofi Kopi, Rectoverso, Perahu Kertas, dan juga Madre. Jadi, bisa diterimalah ya penantian selama 8 tahun πŸ˜›

Di buku Partikel ini saya juga dibuat terkagum-kagum dengan Dee yang berani menyinggung masalah agama, masalah asal mula manusia. Menurut saya, hal itu cukup sensitif. Bagi orang yang berpikiran sempit, mungkin saja bisa murka. Saya membayangkan bagian ini menjadi hal yang cukup lama diolah di meja dapur editor dan penerbit :mrgreen:

Dee-pun membawa kita jauh berjalan-jalan ke berbagai tempat di buku ini. Tidak seperti di buku-buku sebelumnya, dalam Partikel lebih banyak terasa petualangannya. Mulai dari sebuah desa di Bogor, hutan belantara Kalimantan, panasnya Afrika, hingga eloknya London. Kita tidak hanya diajak berimajinasi mengunjungi berbagai tempat, kitapun diajak berkenalan dengan sejumlah kehidupan sosial budaya yang ada.

Oya, di bukunya ini juga, saya rasa Dee hendak menyampaikan pesan terselubung. Pesan agar kita lebih peduli pada alam. Di buku ini kita dibuat banyak bersinggungan dengan alam. Mengenal aneka tanaman, hewan, dan juga isu lingkungan πŸ™‚

Saya sebenarnya agak bingung, buku-buku seri supernova ini masuk dalam kategori apa ya? Tapi untuk Partikel, saya berani bilang dengan mantap, buku ini masuk kategori science-fiction :mrgreen:

Well, saya tidak bisa menemukan kritikan pada karya Dee ini. Saya terlalu dibuat kagum dengan kejeniusannya dalam merangkai cerita. Jalan ceritanya diluar bayanganku. Yah, melihat ketiga buku yang sudah terbit sebelumnya, saya kira Partikel akan memiliki ‘warna’ yang sama. Ternyata saya salah. Dari jumlah halamannya sendiri, Partikel merupakan buku yang paling tebal. Ceritanya-pun memang terasa lebih berat dan kompleks. Ini menurut saya lho ya, mungkin orang lain berpendapat beda.

Kamu sudah baca belum? Kalau menurut kamu buku ini bagaimana? πŸ˜‰

Detil Buku

Supernova Episode: Partikel, ditulis oleh Dee
500halaman, cetakan pertama April 2012 diterbitkan oleh Penerbit Bentang

 
1 Comment

Posted by on 08/05/2012 in Review

 

Tags: , ,

Belanja Buku di Mana? [part 2]

Whuah! Saya merasa berdosa sekali karena menulis lanjutan tulisan sebelumnya cukup lama. Lebih dari 1 bulan bo’… Padahal saya sudah merencanakan bakal ada minimal 2 postingan dalam satu bulan di blog ini 😦 Tapi tentang ini sudah saya jelaskan sih di sini. Jadi kalo mau tau kenapa saya sempat vacuum, monggo di baca di sini aja ya.. hehehe..

Menyambung tulisan sebelumnya, kali ini saya akan bercerita sedikit tentang petualangan saya berbelanja buku secara online :mrgreen:

Awalnya jelas ada perasaan was-was saat berbelanja online. Soalnya saya tidak bisa melihat buku secara fisik. Khawatirnya buku yang dikirim lecek. Saya kan sukanya buku yang rapi gitu. Selain itu juga ada kekhawatiran tertipu. Jadi untuk pertama kali saya hanya memesan buku 1 saja. Itupun yang saya rasa harganya tidak terlalu mahal.

Ini dia buku pertama yang kubeli dengan berburu secara online :mrgreen:

Buku Pertama Hasil Beli Online πŸ˜€

Pembelian pertama berjalan sukses, dan sayapun jadi ketagihan πŸ˜† Waktu itu saya belanja di kutukutubuku. Beberapa kali belanja, akhirnya saya bisa menemukan pola agar belanja buku secara online lebih murah ketimbang belanja buku di toko buku konvensional πŸ˜›

Pada umumnya, buku-buku yang dijual di toko buku online harganya diskon. Jadi harga bukunya lebih murah di toko buku online ketimbang toko buku konvensional πŸ˜† Tapi jangan tertipu dengan harga buku yang diskonan loohh.. Kadang harga buku dengan penambahan ongkos kirim membuat harganya justru jadi lebih mahal daripada kita beli di toko buku konvensional. Nah di sinilah kita harus pintar :mrgreen:

Harga buku di beragam toko buku online umumnya sama, yang membedakan biasanya di ongkos kirim. Jujur aja, saya hanya baru mencoba berbelanja di kutukutubuku dan bukabuku. Menurut saya keduanya bisa dipercaya dan prosesnya relatif cepat. Tapi dari segi kepraktisan, saya rasa bukabuku selangkah lebih maju ketimbang kutukutubuku. Soalnya, di bukabuku begitu kita selesai berbelanja buku, kita bisa langsung transfer biayanya. Sedangkan di kutukutubuku, harus menunggu email konfirmasi terlebih dahulu.

Perbedaan ongkos kirim di toko satu dengan yang lain membuat saya sedikit lebih waspada (demi dapat harga murah πŸ˜† ) Jangan tertipu dengan buku yang dijual paketan (box set) memang kelihatannya harga jauh lebih murah, tapi coba cek dulu total harga setelah ditambah ongkos kirim, kemudian bandingkan dengan dengan harga beli satuan, juga bandingkan dengan harga di toko buku lain. Heuheuheu.. ini dari pengalaman pribadi saya sih.. Mata langsung gonjreng liat harga box set yang jauh lebih murah ketimbang beli satuan. Ternyata eh ternyata, di toko lain, beli satuan justru lebih murah. Sayangnya saya sudah terlanjur pesan 😦

Nah, setelah membaca cerita saya ini, apa teman-teman jadi berminat untuk ngeborong buku secara online juga? :mrgreen:

 
Leave a comment

Posted by on 09/04/2012 in Racauanku

 

Tags: , ,

Belanja Buku di Mana? [part 1]

Saya tinggal di Lombok, pulau yang mulai terkenal dengan keindahan pantainya πŸ˜› Di sini sulit sekali untuk mencari buku. Bukannya tidak ada toko buku, tapi kelengkapannya itu lho yang agak mengecewakan. Dulu sekali, sewaktu baru ada Mall di Lombok (dan saat ini satu-satunya mall), saya cukup terpuaskan dengan kehadiran toko buku Karisma. Tapi, itu duluuuuuu… >.< Dulu saya merasa toko buku Karisma sudah lumayan up to date koleksinya. Saya mendapatkan serial Harry Potter yang pertama di buku ini. Namun seiring waktu, akhirnya kecewa juga 😦

Sejak kecil, orang tua saya sudah mengajarkan saya untuk mencintai buku. Hampir setiap minggu kami sekeluarga jalan-jalan ke toko buku Gramedia (dulu posisi masih di Bandung). Oleh karena di Lombok tidak ada toko buku yang menurut saya koleksinya oke, saya selalu excited kalau akan mengunjungi pada sepupu di Bandung. Saya pasti pulang ke Lombok dengan membawa sejumlah buku :mrgreen: Oya, tapi saat itu saya cukup terpuaskan dengan koleksi buku-buku kakak sepupu yang tinggal di Lombok (dulu dia belinya di Surabaya).

Ini Buku Pertama yang saya beli di Toko BUku Karisma, Mataram Mall

 

Kuliah di Surabaya, membuat saya makin gila belanja buku. Kalap ceritanya πŸ˜† Orang tua sampai ngomel-ngomel dan membatasi uang jajan >.< Selain itu koper pernah sampai rusak karena saya isi penuh dengan buku untuk dibawa pulang ke rumah. Kopernya terasa berat sekali (yaeyalah biasa diisi penuh baju, ini penuh buku :mrgreen: ), dan di bagasi mungkin dibanting atau juga terbanting, dan rusaklah koperku πŸ˜†

Awal di Surabaya, saya suka belanja di toko buku Uranus. Belanja keperluan kuliah juga di toko buku ini. Harganya murah, koleksinya juga cukup lengkap. Harga buku biasanya di diskon hingga sekitar 20%. Gak heran kan belanja buku di sini menyenangkan?

Sekitar taun 2005 kali ya, saya juga tidak terlalu ingat, saya mulai mengenal toko buku Togamas. Waktu itu katanya masih baru buka gitu, posisinya dekat dengan Tunjungan Plasa. Di situ saya merasa telah menemukan surga! *lebay :lol:* Toko buku dengan luas jelajah yang luas, dan yang penting, MURAH! πŸ˜† Sebenarnya sih dalam hal murah tidak kalah dengan toko buku Uranus. Tapi tempat jelajah yang lebih luas dan tentunya koleksi yang lebih lengkap-lah yang membuat saya suka berbelanja di toko buku Togamas.

Di Surabaya ada beberapa cabang Togamas. Tapi yang paling menjadi favoritku adalah Petra Togamas yang dekat daerah Ngagel (Jangan tanya kenapa ada tambahan Petra-nya ya, saya juga tidak tau :mrgreen: ) cukup dekat dengan toko buku Uranus. Di Petra Togamas sini, tidak sekedar toko buku biasa. Di lantai satu ada banyak toko-toko kecil yang menjual macam-macam barang. Selain itu juga ada cafe dan ruangan auditorium. Ruang auditorium kadang digunakan untuk pameran, seminar, jumpa fans, dsb. Rasanya menyenangkan setelah belanja buku, turun ke bawah (toko bukunya memang berada di Lt.2), dan menikmati buku bacaan di cafe sambil mendengarkan gemercik air (di dekat cafe ada kolam). Ah, saya kangen main ke Petra Togamaaassss 😦

Saya pernah memiliki pengalaman menarik di toko buku Togamas yang di jalan Dipenogor, Surabaya. Waktu itu kalau saya tidak salah masih sekitar jam 10 pagi. Saya mencari buku titipan orang tua. Saat di kasir, saya terkejut. Harga buku yang sudah di diskon, masih mendapat diskon lagi! Setelah saya tanya, kenapa bisa dapat diskon lagi? Ternyata kata mba’ kasir, sebelum jam tertentu (saya lupa jam berapa), kalau pembeli belum mencapai sekian (saya juga lupa tepatnya berapa *dikeplak kebanyakan lupa :lol:* ) Maka pembeli akan mendapat diskon lagi. Whuaaaahhh.. senangnya. Tapi saya tidak tau apa hal itu berlaku di seluruh cabang Togamas apa Cuma yang di jalan Dipenogoro itu aja :mrgreen:

Ini foto saya saat pameran pendidikan Jerman di Auditorium Petra Togamas πŸ˜€

Nostalgila belanja buku ke toko buku konvensionalnya cukup segini dulu deh.. sepertinya sudah cukup panjang. Di postingan berikutnya, saya bakal cerita tentang petualangan saya berbelanja secara online :mrgreen:

 
Leave a comment

Posted by on 19/02/2012 in Racauanku

 

Tags: , , , , , ,

Firefly Lane

Buku yang saya beli secara online (saat ini memang sebagian besar buku saya beli secara online >.<) ini baru saja selesai saya baca. Waktu itu memutuskan untuk membeli karena sinopsisnya menarik perhatian saya, tentang persahabatan. Selain itu juga karena cover-nya yang menurut saya bagus ~tidak saya pungkiri, cover bagus bisa mempengaruhi keputusan untuk membeli πŸ˜†

Saya jatuh cinta dengan buku ini 😎 Ceritanya disampaikan secara ringan, tapi ‘dalam’. Berkisah mengenai persahabatan selama puluhan tahun, keluarga, dan tentu saja cinta :mrgreen: Penyampaian dalam berceritalah yang membuat saya jatuh cinta pada buku ini. Di awal cerita, pembaca sudah dibuat penasaran. Penulis hanya menyampaikan sepotong cerita yang menggantung, setelah itu kita di bawa flashback, jauh puluhan tahun ke belakang. Sehingga di tengah-tengah cerita kita dibuat penasaran, apakah bagian ini yang berhubungan dengan cerita pembuka? πŸ˜€

Saya suka buku yang membuat saya merasa telah ‘bertualang’ cukup jauh dan merasa telah menghabiskan banyak waktu yang seru dan tidak membosankan, tapi ternyata jarum jam berkata sebaliknya. Dan buku ini berhasil membuat saya merasa seperti itu. Pembaca serasa diajak berjalan jauh, menonton beragam peristiwa dalam waktu singkat. Walau demikian, penyampaian cerita jauh dari kesan terburu-buru ataupun alur cerita berubah cepat (dan mungkin ini bagian sebagian orang justru membosankan). Cerita terasa mengalir apa adanya. Bahkan saya merasa dibuat melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Penulis, Kristin Hannah, berhasil membuat saya merasa dekat dan menjadi bagian dari tokoh-tokoh yang diciptakannya. Saya bisa merasakan emosi pada setiap tokoh, bahkan saya-pun bisa turut bersimpati ataupun merasa emosi pada beberapa bagian cerita ^^

Buku ini terbagi menjadi beberapa chapter yang disesuaikan dengan tahun dalam puluhan (maksudnya tahun 70an, 80an, dst πŸ˜€ ). Cerita-pun menjadi semakin terasa nyata karena latar cerita disesuaikan dengan tren atau kejadian yang memang sedang hype saat(tahun) itu. Mulai dari lagu, hingga berita. Perkembangan karakter pada setiap tokoh-pun terasa. Saya pribadi sih paling merasakan pada tokoh bernama Kate, terasa sekali perubahan karakter Kate saat remaja, kuliah, dunia kerja, dan saat akhirnya menjadi seorang ibu.

Bagian favorit saya pada buku ini adalah pada hubungan Kate dengan suaminya, Johnny. Kate sudah menyukai Johnny sejak awal jumpa. Namun pada saat itu Johnny menyukai Tully dan berusaha mengejarnya. Kate jelas merasa sakit hati. Tapi Kate berani mengambil ‘resiko’ saat mengetahui Johnny patah hati, dicampakkan oleh Tully.

Begitu Tully mengetahui Kate berhubungan dengan Johnny, Tully tidak percaya kalau Johnny benar-benar mencintai Kate. Menurut Tully, Kate hanya menjadi pilihan kedua, sebagai tempat pelampiasan/pelarian. Tully menyampaikan hal itu kepada Kate. Kate tidak mengacuhkannya, tapi sebenarnya perkataan Tully itu terus menghantuinya selama bertahun-tahun bahkan hingga masa pernikahannya, Kate seringkali masih merasa cemburu dan merasa Johnny hanya menjadikannya sebagai tempat pelarian.

Ahahaha.. jarang sekali saya menyukai kisah percintaan. Tapi menurut saya kisah Kate dan Johnny ini berbeda. Johnny terus membuktikan wujud cintanya, bahkan saat Kate sekarat. Ini mengharukan! Well, sebenarnya inti buku ini bukan pada kisah cinta pada pasangan sih. Tapi lebih menakankan pada kisah persahabatan antara Tully & Kate πŸ™‚

Selain berkisah menganai persahabatan, tampaknya penulis juga memiliki misi untuk menyampaikan agar para wanita mewaspadai bahaya kanker payudara (yep! Kate dikisahkan meninggal karena kanker payudara). Pembaca diharapkan untuk dapat mendeteksi keberadaan kanker sejak dini, melalui pemeriksaan rutin. Hal ini bisa kita lihat di akhir cerita, penulis menuliskan postscript, surat untuk pembacanya.

Jalan cerita yang (menurut saya) realistis, apa adanya, yang membuat saya menyukai buku ini. Ceritanya tidak melulu mengenai mimpi, kesuksesan, kebahagian. Baik dan buruk diceritakan dengan cukup berimbang. Dan bagian yang paling saya suka, karakter Kate & Tully yang sangat berbeda jauh bagai langit dan bumi, namun bisa saling mengisi dan menguatkan dalam ikatan persahabatan. Cerita di buku ini cukup mengharukan (sad ending bo’ :mrgreen: ) Seandainya di film-kan, mungkin akan masuk dalam kategori film drama πŸ˜› dan yah, menurut saya pribadi, jika buku ini di film-kan, akan menjadi film yang menarik πŸ˜‰

 
Leave a comment

Posted by on 18/02/2012 in Review

 

Tags: , ,

Serial Trio Detektif

Sebagai pemanasan (tsaaahh.. postingan pertama bo’ πŸ˜† ) saya mau sedikit mengulas tentang serial Trio Detektif. Novel serial ini merupakan salah satu novel yang menemani masa pertumbuhanku 😎 Beruntung, tidak perlu keluar banyak uang untuk mendapatkan novel serial ini. Soalnya kakak sepupu saya gila baca juga. Yup! Jadi novel serial ini saya dapatkan sebagai ‘warisan’ dari kakak sepupu. :mrgreen:

Serial ini menceritakan 3 remaja yang membentuk biro detektif bernama Trio Detektif. Mereka adalah Jupiter Jones, Pete Crenshaw, dan Bob Andrews. Mereka menerima segala macam kasus. Semboyannya, “Kami menyelidiki apa saja”. Namun karena usia mereka yang masih muda, tidak jarang kemampuan mereka diremehkan oleh lawan atau bahkan klien-nya sendiri. :mrgreen:

Novel serial ini tidak melulu menceritakan tentang kelebihan dan kehebatan personil Trio Detektif. Setiap personil memiliki kelebihan dan kekurangan. Jupiter Jones diceritakan sebegai tokoh yang cerdas, sangat lihai dalam hal menganalisa juga berakting (biasanya paling berguna saat penyamaran), tapi kekurangannya di proporsi tubuhnya yang gempal sehingga menyulitkan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan fisik. Selain itu, terkadang Jupiter Jones digambarkan sebagai sosok yang (agak) sombong hingga membuat kedua teman lainnya kesal πŸ˜†

Berbeda dengan Pete Crenshaw. Dia merupakan tokoh yang memiliki tubuh atletis. Oleh karena itu pekerjaan yang melibatkan ketahanan fisik sering kali dilimpahkan kepada Pete. Kekurangannya? Pete cenderung sembrono dan kurang pandai menganalisa. Lain lagi dengan Bob Andrews. Tokoh ini memiliki sifat yang rajin, tekun dan ulet. Sifatnya yang seperti ini membuat dia bertanggung jawab dalam hal riset dan dokumentasi. Kekurangan Bob terutama pada fisiknya yang kurang sempurna.

Menurut saya, penulis berhasil menanamkan pentingnya kerja sama tim, berusaha menerima & melengkapi kekurangan rekan, serta terus mengasah kelebihan yang dimiliki. Di tengah cerita juga banyak diselipkan ilmu pengetahuan. Entah itu budaya, sejarah, ataupun science. Dulu saya banyak mendapat ilmu dari novel serial ini. Misalnya mengenal beberapa istilah seperti fakta, hipotesa, M.O (modus operandi), bagaimana cara mengukur umur fosil, dan sebagainya. Padahal waktu itu saya masih SD lho 😎

Apakah novel serial ini membosankan? Menurut saya tidak. Karena setiap serinya menceritakan petualangan yang seru dan tentunya berbeda. Konflik yang muncul dalam cerita tidak hanya datang dari luar anggota trio detektif, kadang juga dari intern mereka sendiri. Namun penulis berhasil meramunya dengan apik sehingga konflik-konflik yang muncul bisa dipahami dan tidak membosankan untuk dibaca (bahkan hingga saat ini, saya masih suka menyempatkan diri membaca lagi novel serial ini. –Terutama disaat bokek, tidak ada uang untuk beli novel baru πŸ˜† ). Dalam hal pendeskripsian juga cukup detil, kita dapat dengan mudah membayangkannya, bahkan terasa seperti melihatnya langsung, tapi tetap terasa tidak membosankan. Menurut saya pribadi, tidak mudah lho, mendeskripsikan sesuatu secara detil tanpa menimbulkan rasa kantuk itu :mrgreen:

Saat ini, saya tidak pernah melihat serial ini terpajang manis di toko buku. Mungkin sudah tidak diterbitkan lagi? Entahlah. Tapi kalau benar, sayang sekali. Karena menurut saya, buku ini salah satu buku yang baik untuk di baca anak-anak (iya, saya masih suka main ke tempat buku bagian anak πŸ˜† )

Sekilas tentang penulis

Banyak yang mengira kalau novel serial ini ditulis oleh Alfred Hitchcock. Padahal sebenarnya novel serial ini pertama kali ditulis oleh RobertΒ Jay Arthur, Jr, dan dibantu oleh 4 penulis lain, yaitu William Arden (Dennis Lynds), Nick West (Kin Platt), Mary Virginia Carey dan Marc Brandel (born Marcus Beresford). Robert Jay Arthur, Jr sendiri menulis untuk seri 1 – 9 dan 11.

Kenapa banyak yang mengira novel ini ditulis oleh Alfred Hitchcock? Berdasar yang saya baca di sini dan juga sini, ternyata Alfred Hitchcock mendapat bayaran supaya seolah-olah novel ini dibuat olehnya. Hal ini dimaksudkan untuk menarik minat & meningkatkan penjualan. Karena asumsinya, siapa sih yang gak mau punya novel karangan movie director ternama :mrgreen:

 
3 Comments

Posted by on 23/01/2012 in Review

 

Tags: , , , ,